Senin, 24 Desember 2018

Review: Novel Kemarau karya A.A. Navis


Membaca karya A.A Navis bagi saya merupakan bentuk dari kuliah kehidupan, terdengar berlebihan memang. karya sastranya seperti Kemarau dan Robohnya Surau Kami, merupakan kritik sosial maupun bagi kehidupan beragama masyarakat. Mengapa demikian? Jika ditelisik, salah satu bagian cerpennya tersebut, menggambarkan kesalahan manusia dalam memahami agama yang berpengaruh dalam menyikapi kehidupan sehari-hari (khususnya dalam bekerja) dengan mengacuhkan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga sekaligus masyarakat.  
Sejauh saya membaca karya dari beliau, saya menilai bahwa dari segi kebahasaan ia cenderung memakai Bahasa Indonesia “klasik” yang sedikit diselingi dengan beberapa atau bahkan banyak istilah Minang. Novel yang belum lama ditamatkan, mengingatkan saya akan pepatah: semakin tinggi pohon semakin kencang anginnya. Mungkin pepatah tersebut pantas disematkan pada kisah hidup dari karakter utamanya yakni Sutan Duano. 
Novel Kemarau tidak begitu tebal, hanya terdiri dari 162 halaman untuk terbitan tahun 2018. Jika dilihat dari segi kualitasnya dapat melebihi segi kuantitasnya, karena selesai membaca, saya mendapat banyak kesan positif. Kisah dalam novel ini diawali dengan fenomena kemarau yang melanda sebuah kampong dan mengakibatkan warga desa kesulitan untuk mengairi lahan pertaniannya, khususnya padi. Namun, terjadi anomaly diantara sikap yang ditujukan oleh seluruh warga desa yang pasrah dengan kondisi tersebut, yakni sosok bernama Sutan Duano. Ditengah-tengah masyarakat desa yang berfokus pada mengubah keadaan ‘secara instan’, maka Sutan Duano yang notabene merupakan warga pendatang memiliki pandangan baru dalam menyikapi kemarau tersebut. Dia lebih memilih untuk bekerja keras untuk mengangkut air dari danau demi mengairi sawahnya daripada meminta petunjuk dukun maupun hanya berdoa minta hujan seperti warga desa lain. Walaupun Sutan Duano dapat mengatasi keringnya kemarau terhadap lahan padinya, namun ia mengubah kebiasaan warrga desa dalam menghadapi kemarau. Terlihat jelas bahwa, warga desa masih dihinggapi oleh wabah “kemarau” dalam bekerja keras. Dalam usahanya juga untuk mengubah pola pikir maupun etos kerja masyarakat yang kita sebut saja sebagai usaha membentuk perubahan sosial evolusioner, Sutan Duano dihinggapi oleh bebrapa rintangan maupun kenangan buruk masa lalunya. Seperti apakah tantangan dan kenangan masa lalunya tersebut? Anda bisa baca saja bukunya, karena saya khawatir akan memberikan spoiler.
Jika anda bosan dengan novel maupun karya sastra yang bergenre horror, thriller, misteri, maupun romance, maka saya sarankan untuk sekali-kali mencoba baca karya penulis legendaris satu ini. Karena, saya mengalaminya sendiri, bahwa membaca karya A.A Navis dapat memberikan kesan  dan pesan yang sangat nyata mengenai kehidupan kita sebagai makhluk sosial yang tidak cukup untuk berpasrah namun berusaha bagi diri sendiri maupun orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar